Tepat di hari kesehatan mental kemarin, 10 Oktober 2024, Departemen Ilmu Komunikasi UNY merayakannya melalui forum akademik yang dapat dihadiri oleh masyarakat umum. NASCOM (National Symposium of Communication Science) UNY 2024 kali ini mengajak peserta untuk memahami lebih dalam bagaimana media dan informasi digital dapat mempengaruhi kesehatan mental. Pada kesempatan kali ini, NASCOM UNY 2024 menghadirkan pemateri yang ahli dalam bidang ini, yaitu Irma Gustiana Andriani, S.Psi., M. Psi., Psikolog, Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph. D., Psikolog, Dr. Kartika Nur Fathiyah, S. Psi., M. Si., Psikolog, Chatia Hastari, Ph. D, dan Marcella Ismanto.
Kesehatan mental merupakan kondisi yang kompleks yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Pengalaman hidup, kondisi medis tertentu, dan lingkungan sosial memainkan peran penting dalam kesehatan mental seseorang. Ibu Irma menyampaikan bahwa 6,1% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental. Selain itu, WHO melaporkan bahwa per 10 Oktober kemarin, satu dari tujuh orang berusia 10-19 tahun di dunia mengalami gangguan mental, yang merupakan 15% dari total penyakit pada kelompok usia tersebut.
Generasi Z adalah generasi yang lahir di era revolusi digital, yaitu, pada tahun 1997 sampai 2012 atau setara dengan usia 12-27 tahun. Generasi Z merupakan generasi yang aktif menggunakan teknologi digital, salah satunya adalah sosial media. Sosial media menjadi medium komunikasi antar pihak yang memiliki banyak manfaat untuk efektivitas dan efisiensi komunikasi. Namun, sosial media juga memiliki dampak negatif jika seseorang mengakses secara berlebihan.. Keanekaragaman fitur yang disediakan oleh sosial media dapat mengakibatkan seseorang merasa resah, cemas, hingga berujung mengalami digital depression karena aktivitas digital yang berlebihan. Ibu Irma menyampaikan bahwa teknologi digital dapat membuat pengguna merasa FOMO (Fear of Missing Out), Gangguan Kecemasan, Depresi, dan Insomnia. Sebuah penelitian mengenai hubungan FOMO dengan kecanduan media sosial yang dilaksanakan pada 2019 menemukan fakta bahwa semakin tinggi FOMO seseorang, maka semakin tinggi pula kecanduan media sosial yang akan dialami. Selain itu, survei yang dilakukan UNICEF pada tahun 2019 menemukan bahwa sekitar 35% remaja Indonesia mengalami kecanduan internet, yang berkorelasi dengan gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.
Sebagai pengakses media sosial dan generasi yang menjadikan teknologi digital sebagai suatu kebutuhan, bagaimana cara menghindari dan mengatasi hal yang dapat mengganggu kesehatan mental kita? Generasi Z terkenal dengan slogan “Work Life Balance”, maka, untuk menghadapi keresahan ini, Generasi Z ditantang untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia maya dan dunia nyata. Ibu Irma menyampaikan cara untuk menyeimbangkan dunia maya dan dunia nyata dengan memperhatikan MENTAL (Mindfulness, Emosi yang sehat, Nurture Relationship, Tidur yang cukup, Aktif fisik, dan Latihan Self-care). Ibu Irma merekomendasikan prinsip ini agar kesehatan mental Generasi Z tetap terjaga, beliau menyampaikan bahwa tantangan genz dalam menjaga kesehatan mental adalah tekanan akademik/karir, krisis identitas, eksistensi di dunia, ketidakpastian ekonomi, dan tekanan sosial media.
Sosial media menyajikan berbagai informasi yang tidak dapat ditelan mentah. Sosial media tidak mencerminkan bagaimana kehidupan nyata dijalani. Maka dari itu, segala sesuatu yang disajikan belum tentu benar. Naasnya, generasi Z sering melakukan self comparison. Hal ini dapat mengganggu kesehatan mental seseorang karena self comparison dapat menyebabkan FOMO, gangguan kecemasan dan berbagai gangguan lainnya. Ibu Irma menyampaikan bahwa, lebih baik kita membandingkan diri kita dengan diri kita kemarin daripada membandingkan diri kita dengan orang lain.
Mengingat apa yang disajikan di sosial media tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Maka, melakukan self comparison dengan apa yang dilihat di dunia maya bukanlah suatu hal yang baik. Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph. D., menyampaikan bahwa komunikasi yang terjadi di media sosial bukan komunikasi fisik. Komunikasi fisik sendiri adalah komunikasi secara langsung tanpa ada perantara. Dalam komunikasi fisik, faktor seperti ekspresi wajah, kontak mata, nada suara, dan gerakan tubuh memiliki peran besar dalam proses penyampaian pesan. Proses ini memungkinkan interaksi yang lebih emosional dan responsif, sehingga dapat meningkatkan hubungan interpersonal. Dengan kemajuan teknologi, komunikasi digital sering menggantikan komunikasi fisik. Namun, komunikasi fisik tetap relevan karena banyak faktor komunikasi fisik yang sulit dan tidak bisa dijumpai dalam bentuk komunikasi digital. Komunikasi fisik juga dapat meningkatkan hormon oksitosin yang berkaitan dengan rasa kepercayaan dan kedekatan. Selain itu, komunikasi fisik juga dapat mengurangi hormon stres seperti kortisol.
Komunikasi fisik juga dapat menurunkan tingkat kesalahpahaman karena respon yang spontan. Kesalahpahaman dalam komunikasi seringkali terjadi karena berbagai faktor, salah satunya adalah kesenjangan usia. Hal ini disebabkan karena kondisi sosial di masa pertumbuhan berbeda, yang membentuk latar belakang individu yang jauh berbeda. Salah satunya adalah kesenjangan usia dalam pola komunikasi Generasi Z yang tumbuh dalam era digital dan semua serba instan, sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi milenial dan boomer. Perbedaan ini menjadi tantangan dalam konteks pola asuh, yang nantinya akan membentuk perilaku dan kesehatan mental generasi muda di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. Ibu Chatia Hastari, Ph. D menyampaikan bahwa Generasi Boomer, yang cenderung lebih disiplin dan berpegang pada aturan ketat, sering kali mengalami tantangan dalam memahami pola pikir Generasi Z, yang tumbuh dalam era digital dengan akses informasi yang instan dan kecenderungan untuk lebih terbuka secara emosional. Dalam kesenjangan ini, saling memahami satu sama lain menjadi kunci untuk menjembatani perbedaan cara pandang antar generasi. Pendekatan yang efektif memungkinkan tercukupinya dukungan emosional kedua belah pihak dan meningkatkan keharmonisan keluarga. Selain itu, saling terbuka dan menyikapi masalah dengan bijak dapat membuat anak merasa lebih nyaman untuk bercerita, yang berdampak positif bagi kesehatan mental dan kesejahteraan emosional mereka.
Dalam forum National Symposium of Communication Science (NASCOM) 2024, isu mendalam mengenai kesehatan mental di komunitas marginal juga dibahas. Marcella Ismanto, seorang influencer yan vokal dalam isu ini menyampaikan bahwa komunitas marginal memiliki tekanan yang lebih besar akibat stigma yang melekat pada mereka. Akibat dari stigma sosial ini, banyak anggota komunitas marginal enggan mencari dukungan atau pengobatan kesehatan mental, salah satunya karena terbatasnya akses psikolog dan psikiater serta kendala ekonomi yang memperparah situasi mereka. Pemerataan layanan psikolog dan psikiater ke seluruh lapisan masyarakat dan penyediaan forum diskusi terbuka tentang kesehatan mental, dinilai perlu untuk mengurangi stigma dan memperkuat dukungan komunitas. Penyebaran informasi melalui media juga penting agar pemahaman kesehatan mental lebih merata dan komunitas marginal merasa lebih diterima.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan mental, Dr. Kartika Nur Fathiyah, S. Psi., M. Si., menyampaikan materi mengenai manajemen stres. Manajemen stres menjadi hal yang krusial terutama bagi komunitas marginal dan generasi muda yang kerap terpapar tekanan dari berbagai arah, baik sosial maupun digital. Paparan beban ekonomi, stigma, serta akses yang terbatas pada layanan kesehatan mental seperti yang dialami komunitas marginal dan generasi muda ini dapat meningkatkan risiko gangguan mental. Dalam hal ini, mengenali pemicu stres, seperti tekanan finansial dan perbandingan sosial di media, sangat penting sebagai langkah awal. Manajemen stres yang efektif dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip MENTAL, yaitu mindfulness, menjaga emosi yang sehat, memelihara hubungan, cukup tidur, aktif secara fisik, serta rutin melakukan self-care. Selain itu, mengedukasi masyarakat luas tentang kesehatan mental dapat membantu menurunkan stigma terhadap mereka yang mengalami gangguan mental. Dengan adanya forum ini, diharapkan setiap individu dapat mengelola stres dengan baik, sadar akan isu pemerataan akses kesehatan mental, serta dapat menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari, menjaga kesehatan mental, dan merasakan dukungan yang lebih baik dari lingkungan mereka. Mari bersama-sama membangun lingkungan yang peduli dan saling mendukung, serta mendorong pemerintah dan industri teknologi untuk menciptakan kebijakan dan platform yang lebih ramah pengguna.
Written by : Meuthia Rahma Fateiha (Creative Media Team of Bulan Komunikasi 2024)
Leave a Reply